Menolak Marjinalitas: Menghidupkan Lentera Literasi dan Inovasi di Sulteng

Share on:
Berita Kegiatan

Menolak Marjinalitas: Menghidupkan Lentera Literasi dan Inovasi di Sulteng

Image

Palu- Upacara bendera pada Senin, 18 Mei 2026, menjadi momentum reflektif bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusaka) Provinsi Sulawesi Tengah. Memperingati HUT ke-46 Perpustakaan Nasional RI dan Hari Kearsipan ke-55, upacara yang dipimpin oleh Kadispusaka, Ibu Siti Rachmi Amir Singi, S.Sos., M.Si., berlangsung khidmat. Acara kemudian dilanjutkan di gedung baru dengan pemotongan tumpeng bersama Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dr. Farid Rifai Yotolembah, S.Sos., M.Si. (18/5).

Di tengah perayaan ini, sebuah pesan mendalam mengemuka: perpustakaan bukan lagi tempat yang termarjinalkan, melainkan episentrum perubahan.

Terbukti Pada tahun 2025, Indeks Transformasi Kearsipan berhasil melampaui target dengan mencapai skor 73,64. Meskipun pencapaian indeks memori kolektif bangsa memuaskan, tantangan seperti keterbatasan sumber daya akibat digitalisasi dan ketimpangan tata kelola di berbagai daerah masih perlu diatasi.

Dalam sambutannya, Asisten I menitikberatkan empat poin penting mengenai nilai urgensi dan kontribusi nyata bekerja di Dispusaka, demi mendorong percepatan pembangunan di Sulawesi Tengah:

* Dari Ide Menjadi Nilai Ekonomi: Berawal dari literatur perpustakaan, ide cemerlang dapat diwujudkan menjadi karya nyata yang memiliki nilai ekonomi. Potensi staf harus dipicu melalui pembentukan tim teknis yang solid.
* Optimalisasi Anggaran: Alokasi dana yang luar biasa untuk perpustakaan harus dipertanggungjawabkan melalui program yang berdampak nyata bagi masyarakat.
* Pusat Pengkajian dan Tenaga Ahli: Perpustakaan harus menghimpun para profesional untuk melahirkan inovasi gagasan berbasis literatur yang melimpah. Salah satu gagasan konkret adalah membuat kajian etnologi budaya dan biografi tokoh pemimpin suku Kaili dari masa ke masa serta suku lain di Sulteng.
* Pendobrak Perubahan: Aparatur di perpustakaan tidak boleh patah semangat. Berada di lingkungan literasi berarti menjadi kaum intelektual dengan analisis mendalam. Perpustakaan dan Kearsipan justru harus menjadi garda terdepan pembangunan.

Budaya Membaca dan Apresiasi terhadap Tata Kelola Kearsipan Menjadi Fondasi Vital

Menghidupkan budaya membaca "minimal satu lembar sehari" adalah kunci mematahkan asumsi miring masyarakat. Membaca bukan hanya kewajiban saat ada tugas saja, melainkan resep investasi masa depan dan usia panjang.

Selain itu, Dr. Farid Rifai juga mengapresiasi terobosan ANRI yang dilakukan di tahun 2026, ANRI berfokus pada pengembangan budaya tertib arsip, perluasan layanan publik, dan penguatan khazanah kearsipan nusantara. Melalui momentum ini, seluruh elemen bangsa mulai dari kementerian, lembaga, hingga masyarakat luas diajak bersinergi membangun ekosistem kearsipan yang modern dan adaptif. Kolaborasi ini krusial untuk menjaga warisan dokumenter serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berdaya guna demi masa depan Indonesia.

Sesuai dengan Tema yang diusung dalam Peringatan Hari Kearsipan ke-55 kali ini adalah "Empowering the Future yang berarti Kearsipan untuk Memberdayakan Masa Depan Menuju Indonesia Emas 2045". Yang dimana, tema ini menegaskan bahwa arsip bukan sekadar dokumen masa lalu, melainkan aset strategis nasional yang menjamin validitas data, akuntabilitas, dan kesinambungan pembangunan.

Perayaan ini ditutup manis dengan pemberian Penghargaan Satyalancana Karya Satya serta hadiah lomba video pendek aplikasi IPusSulteng yang bekerja sama dengan Gramedia. Sinergi antara tradisi, teknologi, dan inovasi inilah yang akan membawa Dispusaka Sulteng terus melangkah maju menjadi motor perubahan daerah.

Sumber: PPID Pelaksana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah.

. . .