Mo Tesa - Tesa : Tribunnews dan Dispusaka Prov. Sulteng: Membumikan Literasi, Membuka Jendela Dunia: Menolak 'Sumbu Pendek' di Era Digital.
Palu — Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu fenomena "sumbu pendek"—kondisi di mana masyarakat dengan cepat mengambil kesimpulan dari informasi yang sepotong-sepotong—upaya penguatan literasi yang utuh kini menjadi sebuah urgensi yang mutlak.
Komitmen ini secara lugas disampaikan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusaka) Provinsi Sulawesi Tengah, Ibu Siti Rachmi Amir Singi, S.Sos., M.Si., didampingi Kepala Bidang Pembudayaan Kegemaran Membaca (P3KM), Bapak Munashir, S.E., M.M., saat hadir dalam siaran langsung program Podcast Mo Tesa-Tesa di Radio Tribun Palu yang dipandu oleh jurnalis Viny Alfisah. Dialog interaktif bertema "Gemar Membaca Buka Jendela Dunia" ini mengupas tuntas transformasi strategi Dispusaka Sulteng dalam mengikis kedangkalan literasi masyarakat sekaligus mengoptimalkan infrastruktur pelayanan hingga ke pelosok desa., Senin (15/06/2026).
Bagi jajaran Dispusaka Sulteng, jargon "Gemar Membaca" bukanlah sekadar pemanis spanduk, melainkan sebuah stimulus agar membaca menjelma menjadi lifestyle bagi generasi muda. Membaca esensinya adalah pengembaraan wawasan guna membangun kemampuan menyaring informasi sebelum membagikannya (sharing). Guna merespons pergeseran ke era digital, Dispusaka telah meluncurkan aplikasi perpustakaan digital -iPusSulteng- sejak tahun 2025. Aplikasi ini memfasilitasi kebutuhan pemustaka secara fleksibel dengan menyediakan ribuan e-book mutakhir yang adaptif terhadap dinamika ilmu pengetahuan.
Secara manajerial, peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Sulawesi Tengah kini diposisikan sebagai Indeks Pengukuran Kerja utama. Dispusaka bergerak agresif melalui program pra-akreditasi perpustakaan sekolah yang didukung penuh oleh program prioritas Gubernur, "Berani Cerdas". Melalui intervensi ini, sekolah didorong untuk mengintegrasikan kunjungan perpustakaan dalam penugasan akademik siswa. Di tingkat akar rumput, sebanyak 200 desa di Sulawesi Tengah kini telah tersentuh program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dari Perpustakaan Nasional, lengkap dengan sokongan operasional berupa armada perpustakaan keliling motor trail untuk menjangkau wilayah geografis yang terisolasi.
Langkah taktis ini diperkuat dengan pengaktifan 13 (tiga belas) Bunda Literasi yang bersinergi dengan Tim Penggerak PKK dari tingkat Provinsi hingga Kelurahan. Melalui pendekatan kultural seperti mendongeng sebelum tidur dan gerakan pembatasan gawai pada jam tertentu, Dispusaka berupaya membangun fondasi literasi dari unit terkecil, yakni keluarga. Dengan seluruh fasilitas fisik dan digital yang kini dapat diakses secara gratis di Dispusaka Sulteng, masyarakat diimbau untuk melihat buku sebagai investasi pengetahuan jangka panjang yang tak ternilai bagi masa depan daerah.
Sumber: PPID Pelaksana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah.