Pameran Dokumentasi & Arsip Memorabilia Hasan M. Bahasyuan: Sebuah Penghormatan untuk Seniman Legendaris Sulawesi Tengah
Palu - Malam ini, di sudut kota Palu yang teduh di Jalan Ki Maja 1 No. 15, Raego Café menjadi saksi sebuah peristiwa yang lebih dari sekedar pameran. Dari tajuk "Respect – Revive – Representation: Memorabilia Hasan M. Bahasyuan" hadir sebagai ruang penghormatan, kebangkitan, dan representasi atas perjalanan seni seorang putra terbaik Sulawesi Tengah. Kamis (02/04/2026).
Hasan M. Bahasyuan bukanlah nama belaka dalam catatan lama. Beliau adalah denyut nadi yang pernah menggetarkan telinga masyarakat Kaili dan seluruh penjuru Sulteng melalui tembang-tembang yang melegenda. Pajoge Maradika, Pomonte, Poveba, Pontanu, Peulu Cinde — setiap nada dan syairnya adalah cermin jiwa, keteguhan, dan keindahan budaya yang pernah jaya.
Siapa yang tak mengenal Parigi ri Kareme Nu Vula yang romantis, Tora Ranga yang penuh makna, atau Poiri Nggoviana dan Tananggu Kaili yang tak pernah lekang oleh waktu? Lagu-lagu seperti Posisani, Palu Ngataku, Randa Ntovea, Kaili Kana Kutora, Puteri Balantak, Banggai Tano Monondok, hingga Buya Sabe — semuanya adalah warisan yang hingga kini masih bergema di bibir generasi muda. Bahwa masih ada pemuda yang menyanyikan tembang lawas beliau adalah bukti nyata: karya sejati tak pernah mati, ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.
Malam ini, pameran dokumentasi dan arsip yang digelar tak hanya pajangan foto atau lembaran kertas usang belaka. Melainkan ini adalah upaya untuk respect — menghormati jasa dan dedikasi seorang maestro. Ini adalah upaya untuk revive — membangkitkan kembali kesadaran kolektif bahwa kita memiliki akar budaya yang kuat. Dan ini adalah upaya untuk representation — menampilkan kembali sosok Hasan M. Bahasyuan sebagai ikon yang layak dikenang oleh generasi sekarang dan mendatang.
Kehadiran Ibu Siti Rachmi Amir Singi, S.Sos.,M.Si, selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi penanda bahwa arsip dan dokumentasi bukanlah urusan masa lalu yang kering dan membosankan. Sebaliknya, ia adalah fondasi identitas. Turut hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan, Bapak Andi Kamal Lembah, S.H.,M.Si, serta H. Rudy Mastura, yang akrab disapa (Bung Cudi) mantan Gubernur Sulawesi Tengah, bersama para arsiparis yang menyaksikan langsung tribute yang mengharukan ini. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa penghormatan pada seniman lintas generasi dan lintas jabatan adalah komitmen bersama.
Namun, pameran seperti ini seharusnya tidak berhenti di sini. Ia harus menjadi awal dari gerakan yang lebih
besar: mendokumentasikan secara sistematis karya-karya seniman daerah, menciptakan pusat arsip yang mudah diakses publik, dan menjadikan lagu-lagu Hasan M. Bahasyuan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah. Generasi muda perlu tahu bahwa Palu Ngataku bukan sekadar rangkaian kata, tetapi ungkapan cinta tanah air yang autentik.
Malam ini, di Raego Café, kita diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk modernitas. Kita diajak mendengar kembali gema masa lalu yang ternyata masih sangat relevan. Karena sebuah bangsa yang melupakan seniman agungnya, sama saja dengan memadamkan pelita dalam rumahnya sendiri.
Selamat malam, Hasan M. Bahasyuan. Karyamu tetap bergema. Dan malam ini, Palu kembali bernyanyi untukmu.
Sumber: PPID Pelaksana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah.